Hanina adalah seorang gadis belia yang cenderung dingin dan kaku. Ia tinggal disebuah rumah megah bersama Sang Ibu, Lindya, dan Ayah Tirinya yang ketiga puluh tiga, Adji. Hanina menganggap alur hidupnya sangat buruk. Hanina yang hidup tanpa adanya perhatian dan kasihsayang Lindya, membuat sikapnya kian brutal dan semakin tidakpeduli. Adji, yang diharapkan Hanina dapat memberinya perhatian dan kasihsayang, nyatanya tidak. Adji terlalu sibuk bekerja, sedang Lidya terlalu sibuk menghabiskan uang Adji untuk kepentingan pribadinya sendiri. Lindya juga pandai bersandiwara, sikap egois Lindya benar-benar membuat Hanina muak.
Selain hidup tanpa perhatian dan kasihsayang, Hanina juga hidup tanpa teman. Hidup Hanina sangat netral, bahkan Hanina sendiri merasa seperti mati. Tidak dirumah-disekolah atau bahkan dimanapun, Ia selalu sendiri. Rasa sepi seringkali dirasakan Hanina, namun seiring berjalannya waktu Hanina mulai terbiasa. Waktu berjalan begitu lambat bagi Hanina, hingga tiba saat Waktu mempertemukannya dengan Nino ; segalanya berubah untuk Hanina. Nino, sosok yang penuh perhatian, mampu membuat cara pandang hidup Hanina berubah hampir seratus persen. Hanina tak lagi merasa hidupnya begitu buruk. Dari waktu ke waktu, persahabatan diantara mereka kian erat dan perasaan mereka perlahan mulai lebih dari sekedar persahabatan. Namun apaboleh buat, waktu menunjukan ia tanda-tanda tidak setuju...
